Macapat Salah Satu Budaya yang Adiluhung Bag. 2

Menyambung artikel yang sebelumnya pada Macapat Salah Satu Budaya yang Adiluhung, pada artikel ini akan kami uraikan mengenai Implementasi Macapat dalam kehidupan sehari-hari.

Macapat, menurut komposisi katanya dapat diartikan juga menjadi maca = membaca, pat = sipat/sifat. Jadi tembang macapat memiliki arti atau makna yang menggambarkan proses perkembangan manusia sejak dari dalam kandungan hingga meninggal yang merupakan seluruh proses yang harus dilalui manusia.

Alur perjalanan hidup manusia dapat digambarkan dengan rangkaian tembang macapat. Kehidupan manusia pada dasarnya ada tiga fase penting yaitu fase purwa/awal (maskumambang, mijil, sinom), fase madyo/tengahan (kinanthi, asmarandana, gambuh, dhandhanggula), fase wasana/akhir (durma, pangkur, megatruh, pocung).

Jika dijabarkan adalah sebagai berikut :

  1. Maskumambang : adalah gambaran masa dimana manusia masih di alam ruh. Jika diibaratkan, calon bayi yg diharap – harapkan seperti emas (mas) yang masih terombang ambing di alam ruh dan tumbuh dalam rahim sang ibu (kumambang).
  2. Mijil : mijil (mbrojol, keluar) merupakan gambaran bahwa bayi yang tadinya masih didalam rahim sang ibu sudah keluar dan siap untuk menjalani kehidupan di dunia setelah 9 bulan hidup didalam rahim ibunya. Saat pertama keluar sang bayi pasti menangis, hal ini menunjukkan betapa tidak seorang bayi harus menjalani kehidupan yang tidak nyaman di dunia, setelah menjalani kehidu[an yang serba nyaman dan tersedia di kandungan ibunya. Tetapi itulah, seseorang harus terlahir dan menjalankan tugasnya didunia yang diberikan Allah.
  3. Sinom : merupakan lukisan dari masa muda, bagaikan daun yang sedang bersemi. Masa yang indah penuh harapan dan angan – angan.
  4. Kinanthi : merupakan masa pembentukan jati diri, dimana kita membutuhkan tuntunan agar tidak tersesat atau terjebak kedalam hal yang salah. Selain itu juga, masa dimana kita menuntut ilmu untuk mewujudkan cita – cita.
  5. Asmarandana : menggambarkan masa dimana manusia mulai dirundung asmara atau mulai merasa jatuh cinta.
  6. Gambuh : makna katanya yaitu jumbuh/bersatu, artinya komitmen untuk menyatukan cinta dalam rumah tangga.
  7. Dhandhanggula : menggambarkan kehidupan yang telah mencapai kemapanan sosial baik secara fisik psikologis maupun materi. Selain itu juga manusia telah menemukan manisnya kehidupan sebagai suami istri.
  8. Durma : berasal dari kata darma/sedekah berbagi kepada sesama. Selain itu diratikan pula sebagai masa dimana manusia telah mulai mundur dari kesenangan duniawi untuk mencapai kesenangan ukhrawi.
  9. Pangkur : yaitu manusia mulai memikirkan dan merenungkan masa lalunya (mungkur). Dapat juga diartikan bahwa manusia mulai mungkur atau menyingkirkan hawa nafsu angkara murka. Ada juga yang mengartikan bahwa pangkur berarti mungkur dari urusan duniawi untuk mulai memikirkan kehidupan setelah mati.
  10. Megatruh : megat = pisah, ruh = roh. Jadi megatruh merupakan fase dimana roh telah terpisah dari jasatnya. Artinya manusia tersebut telah meninggal.
  11. Pocung : pocung (pocong/di bungkus kain kafan) saat manusia telah meninggal maka kemudian di bungkus dengan kain kafan (di pocong) lalu di kuburkan. Itulah batas antara kehidupan dunia dengan kehidupan sejati yang abadi.
    Demikian uraian pada kali ini, pada artikel selanjutnya akan kami uraikan mengenai Hubungan Macapat dengan penyebaran Islam di INdonesia.
    Semoga bermanfaat, terimakasih.

    Selalu dapatkan artikel-artikel kami dengan berlangganan pada blog kami, selanjutnya akan lebih bermanfaat apabila anda berkenan untuk menyebarkannya.


Posted on 08/12/2010, in Adat Istiadat, Petuah, Tembang Jawa and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: