Macapat dan Penyebaran Islam di Indonesia

Artikel kali ini merupakan lanjutan dari artikel Macapat Salah Satu Budaya yang Adiluhung bagian pertama dan bagian kedua. Nah pembaca sekalian, pada artikel kali ini kami akan menguraikan mengenai Macapat dan Perkembangan Islam di Indonesia.

Selain dalam fase – fase kehidupan manusia, macapat juga bermakna dalam penyebaran Islam di Indonesia khususnya di tanah Jawa. Para Wali dalam hal ini Walisongo menggunakan macapat sebagai sarana mereka dalam berdakwah. Menurut Suwardi Endraswara (2003) nama – nama dalam tembang macapat memberikan tuntunan atau metode penyampaian dakwah islam yang serba sabar, baik, dan teratur. Dibawah ini akan diuraikan tembang – tembang macapat yang melukiskan proses dakwah Islam.

· Mijil

Berarti keluar, maksudnya dalam menyampaikan ajaran Islam harus memperhatikan waktu, tempat, dan keadaan pada saat keluar atau penyampaiannya. Hal ini bertujuan agar ajaran yang disampaikan dapat diterima oleh masyarakat. Mijil juga mengandung makna jangan asal keluar saja, jadi seorang pendakwah harus berani keluar dan mengeluarkan apa yang diperlukan, mengingat kekuatannya sendiri (Suwardi Endraswara,2003). Jadi mijil juga mengingatkan kita terhadap asal muasal kita. Menurut sejarah mijil digunakan oleh Sunan Gunung Jati atau Fatahilah di Banten.

· Sinom

Berarti rambut halus di dahi perempuan. Bermakna bahwa dakwah yang menggembirakan akan meresapkan ajaran agama yang disampaikan, yang merupakan hiasan bagi hidup manusia dan menjadikan manusia yang penuh harapan dan tampak awet muda karena bersih lahir batin. Dengan tembang sinom, diharapkan aka nada pengertian tentang toleransi keagamaan. Sinom digunakan oleh Sunan Giri dalam dakwahnya.

· Maskumambang

Berarti emas yang terapung, maknanya karena indahnya ajaran Islam dan sangat baik maka sekalipun berat asal ada jiwa yang mengabdi kepada Allah maka semua akan terasa ringan. Maskumambang digunakan oleh Sunan Maja Agung.

· Asmarandana

Asmara = cinta, dana = memberi. Maknanya dakwah yang berhasil dapat menjadikan manusia senang member, infak, Zakat, suka menolong sesama manusia dan ikhlas karena Allah tanpa rasa takabur. Asmarandana digunakan oleh Sunan Giri dalam dakwahnya.

· Dhandhanggula

Dakwah yang diberikan secara menyenangkan akan membawakan harapan untuk menuju kebahagiaan karena yakin dan percaya akan Kemurahan, Kebijaksanaan, Keagungan, Kekayaan, Keadilan, Maha Mengetahui, Kebaikan yang meliputi dari Allah SWT. Ini juga berarti penyampaian kabar gembira bagi orang – orang mukmin. Dhandhanggula dipakai dakwah oleh Sunan Kalijaga.

· Kinanthi

Orang – orang yang masih buta akan petunjuk Allah dikanthi/ditemani untuk dituntun menuju kehidupan beragama melalui dakwah. Dalam berdakwah hendaknya menghindari permusuhan, banyak menciptakan pertemanan yang didasari dengan ketulusan hati. Digunakan oleh Sunan Giri yang merupakan guru dari Sunan Kalijaga.

· Gambuh

Tembang gambuh digunakan untuk menyampaikan wejangan luhur dalam suasana agak santai tetapi sarat makna.

· Durma

Dur = mundur, ma = lima, maksudnya seseorang harus menekan hawa nafsunya terhadap lima hal yang dilarang agama yaitu madon (berzina), minum minuman keras, madat (memakai obat-obatan terlarang), main (berjudi), dan maling (mencuri). Kelima hal tersebut jika telah mampu ditekan merupakan pokok untuk menuju kemenangan dalam arti luas. Baik itu kemenangan di dunia maupaun di akhirat. Durma dipakai oleh Sunan Bonang yang merupakan putra dari Sunan Ampel.

· Pangkur

Nyimpang + mungkur, yaitu jangan sekali – kali menyimpang dan meninggalkan isi al Qur’qn dan Hadits, namun simpang atau tinggalkanlah kejahatan. Digunakan oleh Sunan Muria yang memang sangat teguh dalam memegang dan melaksanakan ajaran Islam menurut Qur’an dan Hadits. Karena memabg dua hal inilah yang dapat mengamankan dan menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat asal ditaati isinya. Merupakan konsep memayu hayuning bawana.(Suwardi Endraswara,2003)

· Megatruh

Berarti memisahkan ruh dari hal – hal buruk dan menahan hawa nafsu. Ajarai Islam pada pokoknya membawakan keimanan untuk menjalankan ibadah dengan menjauhkan hawa nafsu, mentaati perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Dipakai oleh Sunan Giri Perapen.

· Pocung

Pocung = mati, dipocong atau puncak/sempurna. Artinya ajaran Islam menuju pada kesempurnaan dunia dan akhirat, kesempurnaan dalam arti kebahagiaan. Digunakan oleh Sunan Gunung Jati. Pocong juga merupakan tata cara agama yang dianut Islam, orang yang telah meninggal dunia sebelum dikuburkan di mandikan lalu di pocong/dibungkus kain putih terlebih dahulu.

Semoga bermanfaat, terimakasih.


Selalu dapatkan artikel-artikel kami dengan berlangganan pada blog kami, selanjutnya akan lebih bermanfaat apabila anda berkenan untuk menyebarkannya.

Posted on 15/12/2010, in Adat Istiadat, Petuah, Tembang Jawa and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: