1 Suro Bagi Masyarakat Jawa

Mengawali tahun baru 2011 ini, kami berdo’a semoga pembaca sekalian senantiasa di dalam bimbinganNya… amin.

Selanjutnya, kami akan menyampaikan sedikit mengenai bincang-bincang kami dengan beberapa rekan dan sesepuh (rada serem padahal Bapak kami yang tecinta) perihal bulan Muharam (Islam) Suro (Jawa).

Tahun baru 1 muharam atau 1 suro memiliki beberapa pandangan bagi berbagai lapisan masyarakat. Malam 1 suro, merupakan malam yang dipandang mistis, penuh teka-teki dan “horror” bagi masyarakat awam.

Pandangan ini merupakan pandangan yang kurang tepat dan terkesan berlebihan. Malam satu suro, bagi masyarakat jawa merupakan malam yang spesial. Karena khususnya di Keraton Solo (Surakarta Hadiningrat) ada suatu prosesi kirap pusaka yang hanya dilakukan setahun sekali. Momen tersebut, dijadikan sebagai momen hiburan sekaligus ngalap berkah (jawa: istilah untuk suatu do’a yang dipajatkan kepada Allah oleh orang banyak) bagi masyarakat sekitar keraton Solo. Prosesi tersebut dilakukan pada tengah malam, yaitu sekitar pukul 12 malam. Meskipun dilakukan tengah malam, namun minat masyarakat untuk menyaksikan prosesi tersebut sangat besar. Terbukti dari banyaknya pengunjung yang memadati sepanjang rute perjalanan kirap pusaka yang mengelilingi keraton Solo tanpa terputus.

Dokumentasi Ritual Malam 1 Suro (solodolan.blogspot.com)

Masyarakat percaya, bahwa kotoran kerbau yang bernama Kyai Slamet yang menjadi ikon dari kirap pusaka akan membawa kesuburan dan keberkahan bagi orang yang mendapatkannya. Jadi sebagian besar masyarakat mendatangi acara yang digelar setiap tahun tersebut berharap agar mendapatkan kotoran kerbau yang diarak oleh ribuan abdi dalem keraton yang mengiringi kirap pusaka tersebut. Malam satu suro bagi masyarakat jawa, merupakan malam yang berbeda karena merupakan awal bulan yang dianggap sakral atau bulan yang berlaku pantangan-pantangan bagi masyarakat jawa. Seperti pantangan menikah. (ada yang percaya, ada yang tidak, tergantung kepercayaan masing-masing).

Sayangnya juga kami tidak dapat menyaksikan langsung upacara adat yang digelar satu tahun sekali ini karena kami sedang dalam tugas belajar di pinggiran ibu kota (jhehe Cianjur maksudnya…)

Terimakasih, semoga bermanfaat.

Posted on 03/01/2011, in Adat Istiadat and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: