Saparan di Jatinom Klaten…ada Banyak Kue Apem lho….

sebaran apem 3sebaran apemsebaran apem2

Sudah bulan ke dua nich ya? Setelah bulan Suro/Muharam sekarang sudah bulan Sapar nih….waduh..malah sudah hampir habis lagi nich ya bulan saparnya?

Pernah tidak ke daerah pasar Jatinom, Klaten, Jawa Tengah di awal sampai pertengahan bulan Sapar?

Nah, teman-teman yang ada di sekitar Boyolali, Klaten dan sekitarnya kemarin ke Pasar Jatinom belum nich? Rame nggak?

Sebenarnya ada apa sich di pasar Jatinom? Penasaran ya? Learning macapat punya cerita sedikit nich…

Setiap bulan sapar, di Pasar Jatinom selalu dipadati pengunjung baik itu masyarakat sekitar pasar maupun dari berbagai kota disekitarnya, seperti Boyolali. Hal ini disebabkan karena mulai tanggal satu Sapar di pasar tersebut digelar semacam pasar malam atau taman hiburan yang jauh lebih ramai dari pada pasar Jatinom yang biasanya. Keramaian ini akan mencapai puncak acara sebagai hari H, yaitu hari dimana upacara adat masyarakat setempat dilaksanakan. Acara tersebut adalah “Sebaran Apem” atau “Yaqowiyyu”. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan pada tanggal 15 di bulan Sapar setelah tengah hari atau seusai solat jum’at jika tanggal 15 bertepatan dengan hari jum’at. Jika tanggal 15 tidak pas pada hari jum’at, maka sebaran apem ini dilakukan pada hari jum’at setelah tanggal 15. Rangkaian kegiatan ini dimulai dengan kirap kesenian menuju makam Ki Ageng Gribig baru hari berikutnya diadakan kegiatan sebaran kue apem.

Dalam kegiatan ini ternyata ada sejarahnya juga lho, mengapa acara Yaqowiyyu ini di selenggarakan. Hal ini berkaitan dengan penyebaran Islam oleh tokoh agama setempat yang sekaligus menjadi ikon dari kota tersebut, yaitu Ki Ageng Gribig. Sejarah ritual ini berawal dari pembagian kue apem oleh Ki Ageng Gribig pada 15 Sapar 1511 tahun Jawa atau 15 Safar 999H. Pada waktu itu, Ki Ageng Gribig baru saja pulang dari Mekah setelah menunaikan ibadah Haji dan membawa oleh-oleh kue apem dan segumpal tanah liat dari Arafah. Beliau juga membawa oleh-oleh berupa tiga buah roti gimbal yang masih hangat untuk di bagi-bagikan kepada tetangga dan sanak saudsaranya yang ada. Mereka berkumpul untuk mendengar cerita dan wejanggan ilmu dari beliau. Sebelum mereka pulang, beliau membagi oleh-oleh secara merata Tetapi oleh-oleh tadi ternyata tidak mencukupi untuk semua yang hadir. Oleh karena itu disuruhlah isterinya untuk memasak kue tadi menjadi lebih banyak agar semua yang hadir mendapat oleh-oleh. Penyebaran apem dilakukan Ki Ageng Gribig seusai Salat Jumat. Sebelum oleh-oleh dibagikan kepada para tetangga, beliau memanjatkan doa lebih dahulu agar mendapat berkah. Baru setelah itu apem tersebut disebarkan kepada para kerabat dan tetangga yang jumlahnya banyak. (Jafar Sodiq dalam Klatenonline).

Telah dijelaskan diatas, bahwa pesta sebaran apem ini merupakan sejarah warisan dari Ki Ageng Gribig sebaai tokoh penyebar Islam di daerah tersebut. Kenapa harus kue apem ya? Kenapa nggak kue donat, kue lapis atau kue yang lainnya? Ternyata apem itu ada maknanya tersendiri. Apem berasal dari kata afwun atau afwan yang berarti maaf. Karena orang Jawa dulunya kuat dengan simbol-simbol, maka untuk mengajarkan permintaan maaf atau memberi maaf melalui makanan yang diciptakan oleh Ki Ageng Gribig sehingga orang lebih mudah teringat dan mengamalkannya. (Setiyo Purwanto, 2009)

Unik kan cara beliau berdakwah?

Kue apem beliau bagikan setiap tahun yaitu pada bulan Sapar khususnya pada mereka yang hadir dalam pengajiannya. Awalnya sih apem itu dibagikan sebagai jamuan makan dalam setiap pengajiannya. Tetapi karena semakin lama yang hadir di pengajiannya semakin banyak, jadi santrinya mulai kesulitan dalam membagikannya. Oleh sebab itu Ki Ageng Gribig memiliki ide untuk membuat panggung di tempat pengajiannya, dan kue apem dibagikan dengan cara disebarkan dari atas panggung tersebut. Jadi jamaah yang datang akan berebutan untuk mendapatkan kue apem tersebut.

Beda sama sekarang ya, klo sekarang oleh-olehnya air zam-zam, sajadah dan pernak-pernik lainnya, klo kondisinya seperti sekarang, mungkin yang disebar bukan kue apem. Bisa jadi diguyur pakai air zam-zam atau yang disebar butir-butiran kurma..…hehe, lain dulu lain juga sekarang.

Kegiatan penyebaran apem masih dilakukan oleh masyarakat Jatinom sebagai bentuk rasa hormat dan enghargaan mereka terhadap perjuangan Ki Ageng Gribig untuk menyebarkan Islam di daereh Jatinom. Hal ini juga dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan budaya masyarakat setempat. Meskipun yang menyebar apem bukanlah lagi Ki Ageng Gribig, namun minat masyarakat untuk datang ke tempat tersebut, menyaksikan atau bahkan ikut dalam perebutan kue apem masih sangat besar. Seperti halnya kotoran kerbau kiyai Slamet di Keraton Solo, Masyarakat setempat percaya bahwa kue apem yang telah didoakan ini akan membawa berkah bagi mereka yang mendapatkannya karena ini merupakan salah satu sarana dakwah yang digunakan oleh Ki Ageng Gribig.

Masyarakat disekitar tempat tersebut juga menyediakan kue apem sebagai hidangan bagi tamu yang mengunjungi rumah mereka. Dan mereka juga percaya, semakin banyak orang yang mampir atau singgah di rumah mereka maka akan semakin banyak pula rizki dan keberkahan yang akan mereka peroleh. Secara logika dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat tersebut percaya semakin banyak mereka berbagi maka semakin banyak pula mereka akan mendapat berkah, tanpa mengurangi rasa ikhlas mereka terhadap apa yang telah mereka berikan. Jadi pada dasarnya masyarakat disekitar tempat tersebut telah diajarkan bagaimana cara berbagi dengan sesama dan diajarkan untuk menjadi orang-orang yang dermawan.

Terlepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan tersebut, ada yang masih mempercayainya ada yang tidak itu sangat tergantung dari diri masing-masing pembaca. Namun nilai budaya dan kearifan lokal yang terkandung dalam kegatan ini patut untuk dilestarikan sebagai salah satu bentuk dari keanekaragaman budaya yang dimiliki Bangsa Indonesia. Hendaknya kita mengambil nilai-nilai positif dari setiap informasi yang kita dapatkan, atau tidak ditelan mentah-mentah setiap informasi yang ada. Sehingga kita dapat terus melestarikan nilai-nilai budaya yang sebenarnya sangat bernilai positif. Semoga bermanfaat…..dan tetap semangat menjaga kekayaan budaya Indonesia yang sungguh sangat kaya.

Diambil dari : http://klatenonline.com dan http://setiyo.wordpress.com

Dengan sedikit perubahan sesuai pengetahuan kami ya…kalau ada informasi yang lain boleh bagi-bagi lewat komentar dari pembaca semuanya. Terimakasih semoga bermanfaat.Smile  Rolling on the floor laughing

Posted on 02/02/2011, in Adat Istiadat. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: