Maulid Nabi ala Keraton….

grebeg maulud 1 gamelan sekaten  sekaten gbr_thumb

Sudah bulan ketiga nih di kalender Jawa dan Islam. Bulan Rabiul awal atau Bulan Maulud. ada peristiwa penting lho..terutama bagi umat Islam, yaitu bulan lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW. Sering kali orang-orang menyebutnya dengan Maulid Nabi….orang Jawa sering menyebutnya dengan Muludan, hmmm….trus ada grebeg Mulud juga lho di Keraton Surakarta dan Yogyakarta….diawali dengan acara Sekatenan. Sudah pernah ke acara sekaten belum nich….Sekatenan? apa ya….baca lanjutannya yuk, learning macapat ada sedikit informasi nih tentang Sekaten….

Apakah rekan-rekan pembaca sudah pernah datang ke acara sekaten atau malah tepat di acara Grebeg Muludnya?

Sekali lagi dan sering kali masyarakat Jawa kembali memaknai semua acara atau kegiatan dengan pemikiran yang sederhana namun begitu sarat makna. Salah satunya kegiatan Sekaten ini.

Ada ungkapan bahwa tidak aka nada asap jika tidak ada api. Begitu juga acara sekaten ini. Tidak aka nada acara sekaten, jika tidak ada sejarah yang menjadi latar belakangnya. Jangan salah…sekaten sangat sarat makna dari setiap penggalan acaranya, bahkan barang-barang yang dijual pada kegiatan tersebut juga sangat bermakna…tentu saja bagi yang percaya.

Sekaten merupakan kegiatan semacam pasar malam, ya….tidak jauh berbeda dengan acara Saparan di Jatinom Klaten. (udah baca tulisan sebelumnya dari learning macapat kan?) Tetapi tentu saja, acara di wilayah Keraton Surakarta dan Yogyakarta ini lebih besar dari pada acara di Jatinom, karena acara yang diperingati disini juga lebih besar dan lebih lama. Kegiatan Sekaten ini dilakukan serentak di dua Keraton/Kerajaan yang masih berdiri kokoh di Tanah Jawa, yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat dan Keraton Yogyakarta. Perayaan sekatenan di dua keraton tersebut hampir mirip bahkan identik, karena memang kedua keraton tersebut masih bersaudara.

Sekaten dilaksanakan setiap tahun di kedua Keraton tersebut sebagai wujud mikul dhuwur mendhem jero (jawa: menjunjung tinggi kebaikan dan mengubur kejelelekan) terhadap perjuangan Wali Songo yang telah berhasil menyebarkan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Sekaten berasal dari kata “syahadatain”, yang berarti dua kalimat Syahadat, yaitu persaksian umat muslim bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Sekaten diadakan sebagai penghormatan terhadap lahirnya tuntunan bagi manusia, yang perlu terus-menerus didengungkan ke pelosok masyarakat sampai kapanpun juga. Masyarakat yang datang ke Sekaten tidak lain hanya ingin mendapatkan pencerahan (berkah) dari tuntunan yang telah terbukti membawa manusia hidup dalam kebahagiaan lahir batin, penuh rasa syukur, takwa dan tidak takabur. Sebenarnya, orang-orang yang mendatangi Sekaten pada dasarnya adalah mereka yang mau diatur oleh tuntunan, Ngrungkebi Budi Suci dan menghambakan diri kepada Tuhan YME, menuju manusia sejati sebagaimana yang diharapkan para wali. Sungguh cerdas ide para Wali Songo yang mengemas cara dakwah mereka dengan acara sekaten ini, karena dengan cara ini mereka dapat menunjukkan kedekatannya dengan masyarakat sehingga masyarakat pun tertarik dengan ajaran yang ingin mereka sampaikan.

Acara sekatenan dimulai pada tanggal 5 sampai 12 Rabiul Awal, atau 5-12 bulan Mulud di kalender Jawa. Sekaten di kedua Keraton tersebut dimulai dengan ditandai dengan dikeluarkannya gamelan pusaka yang dimiliki Keraton, baik itu Keraton Surakarta Hadiningrat maupun keraton Yogyakarta. Acara tersebut dinamakan acara “miyos gangsa” (Miyos=keluar, gangsa=gamelan). Gamelan yang dikeluarkan pada acara sekatenan sering disebut sebagai Gangsa Kyai Sekati, yang dibuat oleh Sunan Giri yang ahli dalam kesenian karawitan dan sering disebut sebagai gamelan dengan laras pelog yang pertama kali dibuat. Di Keraton Surakarta Hadiningrat akan mengeluarkan gamelan Kyai Guntur Madu, dan Kyai Guntur Sari ke serambi Masjid Agung Solo di Alun-alun Utara Keraton. Sedangkan Keraton Yogyakarta akan mengeluarkan gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo ke Masjid Agung Yogyakarta di Alun-alun Utara Keraton.

Di kedua keraton tersebut, Gangsa (gamelan) Kyai Guntur Madu akan menempati sisi selatan dari Masjid Agung, sedangkan Gangsa Kyai Guntur Sari (Surakarta) dan Kyai Nogowilogo (Yogyakarta) akan menempati sisi utara dari Masjid Agung. Kedua Gamelan di masing-masing keraton ini akan dimainkan secara bersamaan selama tujuh hari berturut-turut, yaitu sampai tanggal 11 Mulud malam kecuali hari kamis malam dan hari jum’at. Gendhing yang ditabuh dalam acara sekaten pun ada gendhing-gendhing khusus yang tentu saja juga sarat makna. Adapun gendhing-gendhing tersebut antara lain : Rambu pathet lima, Rangkung pathet lima, Lunggadhung pelog pathet lima, Atur-atur pathet nem, Andong-andong pathet lima, Rendheng pathet lima, Jaumi pathet lima, Gliyung pathet nem, Salatun pathet nem, Dhindhang Sabinah pathet em, Muru putih, Orang-aring pathet nem, Ngajatun pathet nem, Batem Tur pathet nem, Supiatun pathet barang, dan Srundeng gosong pelog pathet barang. Dalam tabuhan gangsa tersebut setidaknya ada dua kebenaran yang hendak disampaikan melalui gendhing yang ditabuh. Hal pertama yaitu Syahadat Tauhid, yakin pada Allah SWT, dilambangkan dalam gendhing “Rembu”, berasal dari kata Robbunayang yang artinya Allah Tuhanku yang dikumandangkan oleh gangsa Kyai Guntur Madu. Hal kedua adalah Syahadat Rosul dari gangsa Kyai Guntur Sari (Surakarta) dan Kyai Nagawilaga (Yogyakarta), yaitu gendhing “Rangkung”, berasal dari kata Roukhun yang artinya Jiwa Besar atau Jiwa Yang Agung. Jadi semua yang tersaji tidak hanya hiburan atau tontonan belaka. Nah….pada malam terakhir, gangsa ini akan dibawa kembali ke dalam masing-masing Keraton, yang disebut dengan acara “Kondur gangsa” (Kondur=pulang). Kalau di keraton Yogyakarta, sebelum upacara kondur gangsa, diadakan dahulu upacara Maulud Nabi, yaitu ditandai dengan acara pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW oleh Kyai Pengulu. Acara ini dihadiri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono hingga pembacaan naskah riwayat Nabi Muhammad SAW selesai. Upacara tersebut biasanya akan selesai pada pukul 24.00 WIB, baru setelah itu gamelan dibawa masuk kedalam keraton.

Setelah tabuhan gendhing-gendhing dari gamelan pusaka usai, dan acara Kondur Gangsa telah dilakukan pada malam tanggal 12 Mulud atau tanggal 11 malam di bulan Mulud, keesokan harinya akan diadakan acara puncak, yaitu acara Grebeg Mulud. Inilah acara yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat baik itu sekitar Keraton Surakarta maupun masyarakat sekitar Keraton Yogyakarta. Acara ini biasanya dimulai pukul 10.00 WIb dengan ditandai keluarnya sepasang gunungan yang terbuat dari berbagai macam sayuran dan hasil bumi. Gunungan tersebut yaitu Gunungan Jaler dan Gunungan Estri.

clip_image002

Gunungan Jaler

clip_image004

Gunungan Estri

Kedua Gunungan ini akan dibawa dari dalam keraton menuju Masjid Agung untuk didoakan, setelah itu baru dibagikan kepada masyarakat yang hadir dalam acara tersebut. Saking banyaknya minat masyarakat untuk mengalap berkah, gunungan yang dipikul oleh abdi keraton tersebut sering menjadi rebutan.

Tak hanya acara-acara inti dari acara sekaten dan grebeg Mulud yang sarat akan makna. Dagangan yang dijajakan oleh para pedagang di sekitar masjid pun juga mengandung makna. Pada upacara sekaten, mulai hari pertama hingga hari terakhir, biasanya disekitar Masjid Agung aka nada penjual pecut (jawa:cambuk), kinang (racikan daun sirih, gambir,kapur, dan tembakau), sega gurih (nasi uduk), dan endog amal (telur asin) jika di sekitar Masjid Agung Surakarta. Tidak jauh beda dengan di Yogyakarta, disana juga ada penjual makanan dan barang-barang tersebut, hanya bedanya kalau di Yogyakarta endog amal diganti dengan penjual endog abang (telur merah) yaitu telur rebus biasa yang kulitnya diberi warna merah kemudian yang ditusuk dengan tusuk sate.

Sebagian besar masyarakat percaya bahwa jika kita mendengarkan gangsa Sekati yang sedang ditabuh sambil nginang atau mengunyah sirih, maka dipercaya dapat membuat kita awet muda. Selain itu, sebagian masyarakat juga percaya jika mengunyah sirih sambil mendengarkan musik sekaten gigi atau bibir tidak berwarna merah, maka menandakan bahwa orang tersebut sering berkata bohong. (Hayo…udah pernah tes kejujuran dengan cara ini belum nih,,,,) Sedangkan makna membeli pecut adalah diharapkan bisa menggiring nafsu supaya berjalan di jalan yang benar, sebagaimana dari fungsi pecut itu sendiri yang biasa dipakai untuk menggiring ternak agar berjalan sesuai jalannya. Ada juga tradisi membeli endog amal (kalau di Solo), maknanya adalah agar kita menjadi orang yang suka beramal. Lain lagi dengan di Yogyakarta. Kalau di Yogyakarta, yang dijual adalah endog abang yang ditusuk dengan tusuk sate. Maknanya adalah telur merupakan cikal bakal kehidupan, sedangkan warna merah artinya keberuntungan, rejeki, berkah, dan keberanian. Jadi diharapkan dengan memakan telur ini, kita bisa kembali lahir menjadi seseorang yang berjiwa bersih, pemberani, dan penuh keberkahan. Tusuk sate melambangkan bahwa kita semua memiliki poros kehidupan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Makanan lain yang dijual dan bermakna adalah sega gurih (nasi uduk), membeli dan memakannya sebagai tanda mensyukuri nikmat kehidupan dan segala sesuatunya, serta supaya kehidupan akan semakin nikmat dan penuh berkah.

Kegiatan di atas merupakan wujud nyata peristiwa budaya yang begitu religius. Selain itu juga merupakan interaksi Raja dari keraton Surakarta Hadiningrat dan Yogyakarta dengan rakyatnya. Dengan kegiatan tersebut, orang-orang dapat lebih mengenal budayanya sendiri yang begitu indah, beragam dan sarat akan makna bukan hanya sekedar hiburan biasa.

Bagaimana? Masih belum bangga dan mau melestarikan budaya kita sendiri? Terimakasih, semoga bermanfaat…..Smile

(sumber : dari berbagai sumber)

Posted on 13/02/2011, in Adat Istiadat and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: