Imajinasi dan Doa di Balik Kandungan Calon Ibu

ibu hamil 1    embrio     ibu hamil 2

Orang jawa itu kreatif lho….hehe narsis, tapi memang begitu kenyataannya.

Orang jawa itu pandai dalam memaknai sesuatu dalam setiap kejadian. Lebih peka dalam membaca kitab yang gumelar ing jagad (jawa : tersaji di alam). Salah satu contoh mudahnya adalah kupat atau ketupat, yang biasa menjadi hidangan utama di hari lebaran oleh orang jawa di jabarkan menjadi ngaku lepat (mengakui kesalahan) yang merupakan salah satu tradisi bermaaf-maafan dan mengakui kesalahan di hari lebaran. Hampir semua hal bisa dimaknai lain oleh masyarakat jawa dan bisa menjadi simbol yang menakjubkan.

Daya imajinasi yang begitu luas yang dimiliki oleh masyarakat jawa itu mampu melahirkan banyak sekali ragam tata upacara adat yang sarat makna. Dengan menggunakan simbol-simbol dan sesuatu hal dari alam, masyarakat jawa mampu menciptakan suatu adat yang menggambarkan siklus kehidupan manusia mulai dari masa di dalam kandungan hingga tiba saatnya berpulang kembali kepada Yang Maha Pencipta. Dimulai dari masa di dalam kandungan, kehadiran seorang calon bayi sudah diperingati. Mulai dari usia kandungan baru empat bulan, lima bulan, dan tujuh bulan.

Pada saat usia kandungan empat bulan, diselenggarakan upacara adat yang disebut “ngupat”. Ngupat berasal dari kata papat (4, empat) atau kupat. Tujuan diselenggarakan upacara ini untuk keselamatan calon bayi dan ibunya atau untuk tolak bala hampir sama dengan upacara adat “mitoni”. Perbedaanya dengan upacara kehamilan yang lain adalah adanya sajian kupat pada saat kenduri atau do’a bersama ngupati, selain itu kupat juga disertakan dalam jinjingan yang dibawa pulang undangan yang hadir. Makna upacara ini pada dasarnya adalah lambang bahwa bayi telah memasuki tahap ke-empat proses penciptaan manusia. yang dalam ilmu agama diketahui usia empat bulan merupakan usia dimana seorang manusia menerima apa yang akan digariskan kepadanya saat hidup, dan kemudian ditiupkan roh kedalam tubuhnya oleh Yang Maha Pencipta, Tuhan YME. Jika akan menyelenggarakan upacara adat ngupat, maka harus memperhatikan hitungan hari baik menurut perhitungan hari di Jawa. Hal ini dimaksudkan agar upacara tersebut berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan dan do’a yang dipanjatkan dapat terkabul.

Upacara adat selanjutnya adalah ngliman, yang merupakan salah satu upacara adat yang diselenggarakan saat usia kandungan lima bulan. Tujuannya sama dengan upacara adat kehamilan yang lain, yaitu untuk keselamatan calon bayo dan ibunya untuk yang bersifat tolak bala. Upacara adal ngliman ini tidak begitu dikenal masyarakat, karena jarang diadakan dan hanya dilakukan oleh masyarakat didaerah tertentu saja.

Upacara adat yang paling terkenal yaitu upcara adat tujuh bulanan yang tidak hanya diselenggarakan olh masyarakat jawa saja, namun sudah hampir semua masyarakat diseluruh nuantara. Namun bagi masyarakat jawa sendiri, usia tujuh bulan kehamilan seorang calon ibu merupakan usia kehamilan yang memiliki makna tersendiri. Masyarakat jawa memaknai usia tujuh bulan kehamilan itu “Sapta Kawasa Jati”. Sapta = tujuh, kawasa = kekuasaan, jati = nyata. Maknanya, jika Yang Maha Kuasa menghendaki, seorang bayi dapat lahir normal (tidak prematur) pada usia kehamilan tujuh bulan. Namun, jika bayi belum lahir di usia kehamilan tujuh bulan, maka orang tua akan melakukan selamatan dengan membuat acara pitonan atau mitoni (tujuh bulannan), yaitu upacara selamatan atau memohon keselamatan dan pertolongan kepada Yang Maha Kuasa agar semuanya dapat berjalan lancar. Agar bayi yang didalam kandungan beserta ibunya tetap diberi kesehatan dan keselamatan hingga bayi lahir dan seterusnya. Tidak setiap kali hamil seorang calon ibu dan keluarga menyelenggarakan acara pitonan. Sebagian masyarakat jawa menyelenggarakan pitonan hanya pada kehamilan pertama dan kehamilan angka ganjil lainnya jika anaknya lebih dari dua. Seperti kehamilan ke-tiga dan ke-lima.

Pelaksanaan upacara adat pitonan ini sangat sarat makna dan kegiatannya juga cukup rumit, banyak hal perlu dipersiapkan. Makna dari setiap komponen upacara ini juga sangat banyak. Oleh sebab itu, penjelasan mengenai pitonan akan kami sajikan pada bahasan selanjutnya yang khusus membahas pitonan. Perlu diketahui bahwa upacara adat pitonan hanya dilaksanakan pada kehamilan anak pertama, ke tiga dan anak-anak yang bernomor ganjil saja. Untuk kehamilan anak kedua dan anak-anak yang bernomor genap tidak dilakukan upacara adat pitonan, tetapi hanya dilakukan upacara selamatan biasa yang waktunya tergantung dari kesiapan kebutuhan masing-masing keluarga.

Kembali kekreatifan masyarakat jawa dalam memaknai kehamiln terbukti lagi nih…

Alasan masyarakat jawa hanya mengadakan upacara tujuhbulanan pada kehamilan ganjil adalah, orang jaman dahulu berpendapat bahwa anak yang ganjil dianggap lebih. Sedangkan yang genap dianggap sudah pepak (jawa=komplit). Namun tujuan selamatan ini pada dasarnya sama, yaitu mengharap keselamatan bagi semuanya. Semoga bermanfaat….^_^

Posted on 18/03/2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: