PITONAN??? APA YA….

Mengingat dulu dari tulisan yang terdahulu “imajinasi dan doa dibalik kandungan calon ibu”. Kalau sudah melakukan upacara ngupat saat usia kandungan 4 bulan dan ngliman saat usia kandungan 5 bulan, maka sudah waktunya mengadakan upacara pitonan bagi calon ibu yang kandungannya sudah berusia 7 bulan. Pitonan atau tujuh bulanan merupakan salah satu jenis upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat jawa khususnya, namun akhir-akhir ini pitonan sudah dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat di Indonesia meskipun dengan nama atau istilah bahasa mereka masing-masing.

Bagi masyarakat jawa sendiri istilahnya adalah upacara Pitonan atau Tingkepan. Mereka menilai bahwa usia tujuh bulan kehamilan seorang calon ibu merupakan usia kehamilan yang memiliki makna tersendiri. Masyarakat jawa memaknai usia tujuh bulan kehamilan itu “Sapta Kawasa Jati”. Sapta = tujuh, kawasa = kekuasaan, jati = nyata. Maknanya, jika Yang Maha Kuasa menghendaki, seorang bayi dapat lahir normal (tidak prematur) pada usia kehamilan tujuh bulan. Namun, jika bayi belum lahir di usia kehamilan tujuh bulan, maka orang tua akan melakukan selamatan dengan membuat acara pitonan atau mitoni (tujuh bulannan), yaitu upacara selamatan atau memohon keselamatan dan pertolongan kepada Yang Maha Kuasa agar semuanya dapat berjalan lancar. Agar bayi yang didalam kandungan beserta ibunya tetap diberi kesehatan dan keselamatan hingga bayi lahir dan seterusnya.

Mitoni diselenggarakan pada hari-hari yang dianggap baik oleh keluarga dengan perhitungan-perhitungan tertentu. Hari yang baik untuk penyelenggaraan acara tersebut adalah hari selasa (senin siang sampai malam) atau sbtu (jum’at siang sampai malam) dan dilaksanakan pada waktu siang atau sore hari. Tempat pelaksanaanya biasanya di pasren atau senthong tengah (bagian tengah dari rumah adat jawa). Pasren ini merupakan tempat menyimpan pusaka, harta benda dan memuja Dewi Sri atau Dewi Padi oleh masyarakat petani jaman dahulu. Tetapi sekarang sudah sangat jarang sekali ditemukan masyarakat yang memiliki senthong di rumahnya. Maka pelaksanaan pitonan biasanya dilakukan di ruang keluarga atau yang penting luas dan cukup untuk pelaksanaan acara ini.

Pada tulisan ini akan saya sampaikan mengenai tata cara pelaksanaan upacara adat pitonan dan makna dibalik kegiatan tersebut. Diambil dari tembi.org dalam hanyawanita.com upacara ritual pitonan terdiri dari beberapa tahap yaitu :

1. Siraman

siraman 2siraman

Siraman dilakukan oleh sebanyak tujuh orang. Maknanya adalah mohon doa restu, supaya suci lahir dan batin. Pembersihan secara simbolis bertujuan untuk membebaskan ibu dari berbagai macam beban moral sehingga pada proses kelahirannya kelak berlangsung lancar. Upacara dilakukan di kamar mandi dan dipimpin oleh anggota keluarga yang dianggap sebagai sesepuh (tertua), dan dipilih enam orang anggota keluarga yang lain yang dianggap sesepuh, seperti nenek, ibu, ibu mertua dan anggota keluarga yang lainnya. Setelah upacara siraman selesai, air kendi tujuh mata air dipergunakan untuk mencuci muka, setelah air dalam kendi habis maka kendi dipecah. Kemudian si calon ibu akan diberikan souvenir berisi tujuh macam pernak-pernik yang dikemas baik. isinya biasanya adalah pensil, sisir, handuk, benang, cermin, jarum, dan sabun. Makna dari benda-benda itu adalah agar kelak si anak akan menjadi anak yang baik, pintar, rajin dan segenap doa-doa untuk kebaikan si jabang bayi.

2. Memasukkan telur ayam kampung kedalam kain calon ibu oleh sang suami

Ritual ini dilakukan dengan memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh suami, dari bagian atas perut, lalu dilepas hingga pecah. Ada yang percaya bahwa jika telur yang dilepas pecah, maka kemungkinan anak yang akan lahir perempuan, jika telur tidak pecah, maka kemungkinan yang lahir anak laki-laki. Pada dasarnya doa dan harapan dari ritual ini adalah agar bayi dapat lahir dengan mudah tanpa halangan suatu apapun. Upacara ini dilakukan masih di tempat siraman.

3. Memasukkan kelapa gading muda

kelapa di gambar

Upacara ini disebut juga dengan “brojolan” . Dilakukan dengan cara memasukkan sepasang kelapa gading muda yang telah digambari Kamajaya dan Dewi Ratih atau Arjuna dan Sembadra kedalam kain dari atas perut calon ibu. Maknanya sama dengan upacara memasukkan telur yaitu agar bayi lahir dengan lancar. Perbedaannya adalah tempat pelaksanaanya. Pada upacara ini dilakukan di depan senthong tengah (bagian rumah adat jawa) nenek dari calon bayi (ibu dari calon ibu) dan diterima oleh nenek besan (ibu dari calon bapak). Kedua kelapa itu kemudian ditidurkan di atas tempat tidur layaknya menidurkan bayi.

Secara simbolis, gambar Kamajaya dan Dewi Ratih atau Arjuna dan Sembadra melambangkan doa agar si bayi jika lahir kelak akan elok rupawan dan memiliki sifat-sifat luhur seperti tokoh yang digambarkan tersebut. Karena Kamajaya merupakan simbol seorang pria yang rupawan sehingga sering disebut sebagai dewanya ketampanan, dan Dewi Ratih merupakan simbol kecantikan seorang perempuan sehingga sering disebut sebagai dewinya kecantikan. Sedangkan Arjuna merupakan tokoh wayang yang gagah, tampan dan kesatria yang sangat arif bijaksana dan salah satu istrinya Sembadra merupakan istrinya yang paling cantik dan memiliki sifat yang baik. Sehingga keempat tokoh wayang tadi dianggap sebagai tokoh wayang ideal bagi masyarakat di tanah jawa. Ritual ini ada yang melakukannya ada yang tidak.

4. Memutus lawe/benang/janur

Ritual ini dilakukan dengan memutus lilitan lawe atau dapat diganti dengan janur yang dilingkarkan di perut calon ibu. Lilitan ini harus diputus oleh calon ayah dengan maksud agar kelahiran bayi lancar.

5. Memecahkan periuk dan gayung

Memecahkan periuk dan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa (siwur) menyimbolkan memberi sawab (doa dan puji keselamatan) agar nanti kalau si ibu masih mengandung lagi, kelahirannya juga tetap mudah. Karena perlu diketahui bahwa upacara pitonan/tingkepan ini umumnya hanya dilakukan pada kehamilan pertama atau kehamilan anak yang ganjil bagi sebagian masyarakat.

6. Minum jamu sorongan

Upacara minum jamu sorongan, melambangkan doa agar anak yang dikandung itu akan mudah dilahirkan seperti didorong (disurung/disorong).

7. Nyolong endog

Upacara nyolong endhog (mencuri telur), melambangkan agar kelahiran anak cepat dan lancar secepat pencuri yang lari membawa curiannya. Upacara ini dilaksanakan oleh calon ayah dengan mengambil telur dan membawanya lari dengan cepat mengelilingi kampung.

8. Ganti busana

ganti jarik 2ganti jarik

Upacara ganti busana dilakukan oleh calon ibu dengan tujuh jenis kain batik dengan motif yang berbeda disertai dengan kain putih sebagai dasar kain pertama. Hal ini melambangkan bahwa bayi yang akan dilahirkan adalah suci dan mendapatkan berkah dari Tuhan YME. Calon ibu akan memakai kain model kemben terbaik, dengan harapan agar kelak si bayi juga memiliki kebaikan-kebaikan yang tersirat dalam lambang kain.

Calon ibu akan berganti-ganti kain dengan diiringi pertanyaan kepada hadirin khususnya ibu-ibu “sudah pantas apa belum?”, sampai ganti keenam kali dijawab oleh ibu-ibu hadirin “belum pantas” sampai kain ketujuh dengan kain sederhana dijawab “pantes”. Kemudian kain tersebut dipakai sampai upacara usai.

Adapun kain batik yang dipakaikan secara berurutan adalah sebagai berikut : kain motif Sidoluhur à Sidomukti àTruntumà Wahyu Tumurun (dapat diganti dengan motif Parang Kusuma) àUdan Riris à Sidoasih (dapat diganti dengan motif Semen Rama yang dipakaikan sebelum kain motif Udan Riris) à Lasem (dapat diganti dengan motif cakar ayam) sebagai kain dan dringin sebagai kemben.

Adapun makna dari masing-masing motif kain tersebut adalah :

a. Sidomukti, melambangkan kebahagiaan

b. Sidoluhur, melambangkan kemuliaan

c. Truntum, melambangkan agar nilai-nilai kebaikan selalu dipegang teguh

d. Wahyu Tumurun, melambangkan agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan YME dan selalu mendapat petunjuk dan perlindungan dari-Nya.

e. Parangkuruma, melambangkan perjuangan untuk tetap hidup

f. Semen rama, melambangkan agar cinta kasih kedua orang tua yang sebentar lagi menjadi bapak-ibu tetap bertahan selama-lamanya

g. Uran riris, melambangkan harapan agar kehidupan dalam masyarakat anak yang akan lahir selalu menyenangkan

h. Sidoasih, maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang akan selalu dicintai dan dikasihi oleh sesame serta mempunyai sifat belas kasih

i. Lasem, bermotif garis vertical bermakna semoga anak senantiasa bertakwa kepada Tuhan YME.

j. Cakar ayam, melambangkan agar anak yang akan lahir kelak dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya

k. Grompol, maknanya semoga keluarga tetap bersatu tidak bercerai dan tetap harmonis (nggrompol=berkumpul)

l. Dringin, bermotif garis horizontal bermakna semoga anak dapat bergaul dengan masyarakat dan berguna bagi sesama.

9. Rujakan

sesajine

Rangkaian acara pitonan/tingkepan yang terakhir adalah rujakan, rasa rujak yang dibuat oleh calon ibu konon menentukan jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan. Menurut kepercayaan masyarakat, jika rujaknya pedas, mengindikasikan si bayi berjenis kelamin perempuan. Lalu para tamu dipersilakan membeli rujak dengan uang bohongan, yaitu uang dari pecahan genting tanah liat atau kreweng. Kemudian uang kreweng tersbut dikumpulkan dalam kuali tanah liat yang kemudian dipecah di depan pintu. Maknanya agar anak yang dilahirkan banyak mendapat rejeki dan dapat menghidupi keluarganya serta banyak amal.

Wah….ajaib ya imajinasi masyarakat jawa….bisa menebak bayi yang akan dilahirkan perempuan atau laki-laki dari rasa rujak. Kan jaman dulu belum ada USG yang bisa mengintip kedalam perut calon ibu.

Dengan selesainya seluruh rangkaian upacara diatas, maka upacara pitonan/tingkepan sudah berakhir yang ditandai dengan doa yang dipimpin oleh sesepuh yang memimpin upacara adat tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mengelilingi selamatan atau sesajian yang nantinya dibagikan kepada seluruh tamu yang hadir. Adapun isi dari sesaji selamatannya adalah sebagi berikut :

1. Tumpeng Robyong dengan kuluban, telur ayam rebus, ikan asin yang digoreng.

2. Peyon atau pleret adonan kue/nogosari diberi warna-warni dibungkus plastik, kemudian dikukus.

3. Satu Pasang Ayam bekakah (Ingkung panggang)

4. Ketupat Lepet (Ketupat dibelah diisi bumbu)

5. Bermacam-buah-buahan

6. Jajan Pasar dan Pala Pendem (Ubi-ubian)

7. Arang-arang kembang satu gelas ketan hitam goreng sangan

8. Bubur Putih satu piring

9. Bubur Merah satu Piring

10. Bubur Sengkala satu piring

11. Bubur Procot/ Ketan Procot, ketan dikaru santan, setelah masak dibungkus dengan daun/janur kuning yang memanjang tidak boleh dipotong atau dibiting.

12. Nasi Kuning ditaburi telur dadar, ikan teri goreng, ayam,rempah

13. Dawet Ayu (cendol, santan dengan gula jawa)

14. Rujak Manis terdiri dari tujuh macam buah.

Pada dasarnya upacara pitonan atau tingkepan merupakan upacara yang dilaksanakan sebagai sarana untuk menghilangkan petaka, memohon kepada kebaikan bagi seluruh keluarga, terutama calon anggota keluarga yang baru. Selain itu, juga pitonan atau tingkepan dilakukan untuk menjunjung tinggi dan melestarikan adat-istiadat yang sudah turun temurun agar tidak punah dengan tetap menjaga kemurnian dan nama baik dari suatu kelompok social masyarakat.

Seperti sudah dijelaskan di awal, dalam upacara pitonan ini ada selamatan atau sesajian yang dikeluarkan oleh pihak keluarga sebagai ungkapan rasa syukur. Adapun jenis dan makna dari sebagian sesajian tersebut antara lain :

Ø Tujuh macam bubur, termasuk bubur procot (bubur tepung beras yang diberi ketan yang dibentuk bulat-bulat didalamnya) bermakna agar bayi dapat lahir dengan lancar (procot).

Ø Jajan pasar, makanan kecil atau kue yang harus dibeli di pasar.

Ø Rujak buah-buahan tujuh macam dan dibuat seenak mungkin yang maknanya agar anak yang dilahirkan menyenagkan dalam keluarga.

Ø Keleman, yaitu umbi-umbian sebanyak tujuh macam.

Ø Sajen tumpeng (nasi berbentuk kerucut), maknanya adalah doa yang dipanjatkan oleh banyak orang hanya tertuju pada satu yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Yang diambangkan dengan puncak tumpeng hanya satu butir nasi. Ada tumpeng yang namanya tumpeng kuat (tumpeng dengan urab-urab tanpa cabe, telur ayam rebus dan lauk-pauk), yang maknanya agar bayi yang dilahirkan nanti sehat dan kuat.

Ø Sajen jengan abang putih (bubur merah yang dibuat dari beras merah atau bubur dari beras biasa yang diberi sisiran gula merah, bubur putih dari beras putih biasa), melambangkan benih pria dan wanita yang bersatu dalam bayi yang akan lahir.

Ø Sajen berupa nasi dengan gudangan (sayuran rebus), bermakna agar calon bayi selalu dalam kondisi segar.

Ø Cengkir gading (kelapa gading yang masih muda), yang diberi gambar Kamajaya dan Dewi Ratih, bermakna agar kalau bayi lahir jika laki-laki tampan dan jika perempuan cantik dan berbudi luhur. Calon ayah kemudian memecah salah satu kelapa tersebut.

Ø Benang lawe atau janur yang dipotong oleh calon yah menggunakan keris Brojol yang ujungnya diberi rempah kunyit melambangkan doa untuk mematahkan segala bencana yang menghadang kelahiran bayi dan doa agar bayi yang dikandung dapat lahir dengan mudah.

Ø Kain dengan tujuh motif yang berbeda malambangkan harapan kebaikan bagi ibu dan bagi anak jika sudah lahir.

Ø Sajen dawet, bermakna agar bayi yang sedang dikandung mudah kelahirannya dan menyegarkan.

Ø Sajen telur yang nantinya dipecah bermakna ramalan, bahwa kalau telur pecah berarti bayi yang lahir perempuan dan jika tidak pecah berarti bayi yang lahir laki-laki. (tu..kan, USG bisa tersaingi lagi….^_^)

Begitu besar ungkapan doa-doa dan harapan yang dipanjatkan dalam rangkaian upacara ini. Sehingga tidak berlebihan jika upacara pitonan atai tingkepan ini disebut sebagai upacara adat yang sarat makna dan doa-doa bagi calon keluarga baru.

“Diambil dari berbagai sumber”

Posted on 13/04/2011, in Adat Istiadat. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. ooww..heheheh

  2. tolong info pitong lapan bayi laki – laki

  3. aku mau 4 BULANAN….baiknya 4bulan atau 7BULAN YAH?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: