Kenalan dulu yuk sama karawitan…

Karawitan, sebenarnya apa ya karawitan itu…hmmm…kita belajar bareng yuk ah….

gamelan1tumblr_kx4e6gRcVC1qb0esto6_500

Karawitan berasal dari bahasa jawa tentu saja, yang kurang lebih artinya “rumit”, “berbelit-belit” tapi jangan salah…rawit juga berarti halus, cantik, berliku-liku dan enak. Makanya bagi sutresna budaya, musik karawitan itu enak sekali didengar, indah dan halus komposisi musiknya, tapi sayangnya sebagian besar masyarakat sekarang ini menilai bahwa musik karawitan itu bikin ngantuk. Hmmm…padahal itu karena musiknya yang terlalu enak dan mendayu sampai membuat mereka mengantuk. Hayoooo..betul tidak….???

Kata karawitan khususnya dipakai untuk mengacu pada musik gamelan, musik indonesia yang bersistem pada nada non diatonis (dalam laras slendro dan pelog) yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar. Jadi gamelan merupakan seperangkat instrumen sebagai pernyataan musikal yang disebut karawitan.

Seni gamelan Jawa mengandung nilai-nilai historis dan filosofis bagi bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan gamelan Jawa merupakan salah satu seni budaya yang diwariskan oleh para pendahulu dan sampai sekarang masih banyak digemari serta ditekuni. J.L.A. Brandes (1889) dalam Purwadi (2006) mengemukakan bahwa masyarakat Jawa sebelum adanya pengaruh Hindu telah mengenal sepuluh keahlian, diantaranya adalah wayang dan gamelan.

Gamelan Jawa memiliki sejarah yang panjang juga lho…

gamelangamelan-yogya

Seperti halnya kesenian atau kebudayaan yang lain, gamelan Jawa juga mengalami berbagai macam perubahan dalam sejarah perkembangannya meskipun tidak terlalu banyak merubah pakem (aturan) yang ada. Perubahan terjadi pada cara pembuatannya, sedangkan perkembangannya menyangkut kualitasnya. Dahulu pemilikan gamelan ageng Jawa hanya terbatas untuk kalangan istana. Kini siapapun yang berminat dapat memilikinya sepanjang bukan gamelan-gamelan Jawa yang termasuk dalam kategori pusaka (Timbul Haryono, 2001 dalam Purwadi, 2006). Hal ini dikarenakan juga harga satu perangkat gamelan Jawa dapat mencapai ratusan juta rupiah. Secara filosofis gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan karena filsafat hidup masyarakat Jawa berkaitan dengan seni budaya yang berupa gamelan Jawa serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianutnya.

Istilah gamelan telah lama dikenal di Indonesia, sudah disebut pada beberapa kakawin Jawa kuno. Sampai sekarang pun arti gamelan belum ada yang memastikannya, jadi masih berupa dugaan. Mungkin gamelan merupakan pergeseran kata atau perubahan kata dari “gembel”, gembel adalah alat untuk memukul. Karena cara membunyikan instrumen itu dengan dipukul-pukul. Barang yang sering dipukul namanya pukulan, barang yang sering diketok namanya ketokan atau kentongan, barang yang sering digembel (kata lain dari dipukul) namanya gembelan. Nah…..kata gembelan ini bergeser atau berkembang menjadi gamelan. Mungkin juga karena cara membuat gamelan itu adalah perunggu yang dipukul-pukul atau dipalu atau digembel, maka benda yang sering dibuat dengan cara digembel namanya gembelan, benda yang sering dikumpul-kumpulkan namanya kempelan dan seterusnya gembelan berkembang menjadi gamelan. Dengan kata lain gamelan adalah suatu benda hasil dari benda itu digembel-gembel atau dipukul-pukul (Trimanto, 1984 dalam Purwadi, 2006).

Musik-musik etnis di Indonesia 90% jenis musik perkusif, artinya untuk memainkannya dipergunakan alat pukul. Gamelan-gamelan kuno yang masih ada, seperti Gamelan Megamendung (dari kanoman Cirebon), Kyai Guntur Laut (dari Majapahit), dan Gamelan Sekaten jumlah unitnya masih sedikit. Manusia memang selalu tidak puas kepada apa yang sudah ada. Kita selalu ingin mengembangkan apa yang sudah ada. Alat musik etnis ritualis menjadi alat musik religius, kemudian menjadi musik sarana, yaitu gamelan untuk dakwah, untuk sarana pendidikan, dan untuk media penerangan. Pada jaman gamelan sebagai sarana ini jumlah unitnya selalu mengalami penambahan, antara lain ditambah macam-macam kendang, macam-macam alat musik petik, alat musik gesek, bahkan tambur, terbang, jedor, bedug dan lain-lain masuk kedalam anggota musik gamelan. Anak muda sekarang ada yang ingin mengembangkan unit gamelan dengan cara gong dibalik diisi kerikil dan dibunyikan dengan memukul bahunya, kempul diberi kerikil didalamnya, bonang dipukul-pukul dengan pemukul tambur pada badannya, dan lain-lain (Trimanto, 1984 dalam Purwadi, 2006).

Dalam buku yang saya baca juga ada kata seperti ini “Pradangga Adi Guna Sarana Bina Bangsa”. Arti kata tersebut adalah Pradangga = gamelan, yang berasal dari kata Prada + Angga artinya “yang punya badan mengkilat”, Adi artinya baik, Guna artinya kepandaian, ilmu pengetahuan atau manfaat, Sarana artinya alat, Bina artinya membangun, membimbing atau mendidik, sedangkan Bangsa adalah orang-orang yang bertempat tinggal disuatu tempat yang mempunyai kedaulatan sendiri dan berpemerintahan sendiri. Arti kata secara bebas “apabila gamelan itu digunakan dengan sebaik-baiknya bisa sebagai alat untuk mendidik bangsa”. Suatu hal yang tidak bisa dihindari bila kita mendengar uyon-uyon rasanya seperti kita dibawa ke alam impian yang serba nikmat, lupa semuanya, laksana disurga dunia.

Itulah sebagian kecil informasi yang saya dapat dari sebuah buku berjudul Seni Karawitan Jawa yang saya beli beberapa waktu yang lalu bersama bapak. Semoga bermanfaat dan tetap semangat untuk belajar serta melestarikan budaya Indonesia.

Sumber :

Purwadi, Dr., M. Hum dan Drs. Afendy Widayat. 2006. Seni Karawitan Jawa. Yogyakarta : Hanan Pustaka

Posted on 04/06/2011, in Tembang Jawa and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: