Kenalan sama Batik Yuuuukkkkk….

Oleh : Bayu kartika
Ngobrolin budaya??? Hmmm…. nggak lengkap deh kayaknya kalau belum kenalan sama Batik yang merupakan salah satu ikon budaya yang tak terpisahkan dari kebudayaan itu sendiri. Bukan hanya sebagai ikon tak terpisahkan dari budaya, tapi juga dari kehidupan masyarakat khususnya masyarakat Jawa, batik tidak pernah lepas. Batik memiliki peranan dan filosofi tersendiri bagi masyarakat Jawa. Dari mulai masih dalam kandungan ibu hingga tutup usia batik tak pernah terpisahkan.
Kembali lagi nih….kreatifitas masyarakat Jawa khususnya untuk berimajinasi dan berfilosofi teruji lagi, dan memang tak terkalahkan deh pokoknya….
Setiap pola atau corak batik tradisional memiliki nilai-nilai filosofis yang adiluhung, terutama batik-batik yang masih asli bermula dari keraton, baik itu Surakarta maupun Yogyakarta. Menurut salah seorang pakar batik di Solo, batik memiliki dua keindahan, yaitu keindahan visual dan keindahan spiritual yang tergambar jelas dalam motif-motifnya. Keindahan dan filosofi yang dimiliki motif batik di Solo dan Yogyakarta merupakan ciri khas yang tidak dimiliki oleh batik-batik dari negara lain.
Pola batik di Jawa khususnya, mempunyai arti yang sakral untuk berbagai upacara adatnya. Dari mulai mitoni untuk calon ibu yang sedang hamil 7 bulan (sudah baca tulisan kami sebelumnya yang ada kaitannya sama “pitonan” kan?), kelahiran, memasuki usia dewasa, perkawinan, sampai kematian. (semoga dapat terus menulis dan membagi informasi tentang siklus kehidupan manusia yang tak lepas dari batik deh…amin.).

Seperti yang sudah disampaikan pada tulisan kami sebelumnya, bahwa untuk upacara pitonan saja kita memakai enam macam kain batik dan satu kain lurik. Itu baru untuk calon manusia yang masih dalam kandungan. Masih banyak lagi batik-batik yang diperlukan dalam kehidupan manusia dan yang pasti nilai filosofinya tidak terkalahkan deh karena setiap motif yang dikenakan memiliki makna dan lambang harapan sendiri-sendiri. Apapun karya seni yang tampak bisa menjadi cermin kuatnya muatan rasa dari segenap lelaku prihatin para pembuatnya. Bisa jadi, batik merupakan simbol harapan dan do’a-do’a yang tak terlafalkan. Bahkan dari batik juga kita bisa tahu apa yang menjadi falsafah hidup para pemakainya, yang bisa menyesuaikan keadaan tanpa harus kehilangan jatidirinya.
Sebelum ngobrol dan belajar banyak mengenai batik, kita harus tau dulu pengertian batik itu sendiri. Nich..pengertian batik juga merupakan salah satu hasil kreatifitas masyarakat Jawa untuk mengolah kata-kata menjadi bermakna. Kata “batik”, berasal dari bahasa Jawa ”Amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam bahasa Inggrisnya “wax-resist dyeing”. (ini kata http://www.wikipedia.com). Seni batik diperkirakan telah ada di Indonesia sejak abad 12 M. Hiasan atau corak pada kain batik yang dibuat dengan mengaplikasikan malam atau lilin pada kain putih mencerminkan unsur-unsur yang erat kaitannya dengan kepercayaan, pemujaan kepada leluhur, pemujaan terhadap keagungan alam, serta dapat juga menunjukkan status sosial bagi pemakainya. Pada jaman dulu, kain putih yang digunakan merupakan kain hasil tenunan sendiri. Pewarna yang digunakan juga berasal dari tumbuhan-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Namun seiring perkembangan penyebarannya, batik tidak hanya menjadi pakaian keluarga keraton, melainkan juga menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Corak dan warna batik sendiri terus berkembang seiring dengan perkembangan jaman tanpa meninggalkan ciri khas dari batik itu sendiri yang filosofinya mencerminkan karakter budaya setempat. Batik di Jawa saja memiliki ciri khas masing-masing. Misalnya Batik pekalongan, warna-warnanya cemerlang dengan motif yang dipengaruhi oleh kebudayaan Cina dan Eropa. Ya maklum, kan Pekalongan daerah pesisir, jadi banyak masukan kebudayaan-kebudayaan dari luar. Berbeda halnya dengan batik Jogja dan Solo, kebanyakan berwarna sogan cokelat dan lebih kalem. Untuk lebih banyak belajar batik di masing-masing daerah akan dibahas selanjutnya.
Pada umumnya batik ada dua jenis, yaitu batik cap dan batik tulis. Tapi seiring perkembangan teknologi, bila dilihat dari metode pembuatannya, batik terbagi menjadi lima macam. Lho kok tambah banyak…. ???apa aja?
Ini nich…batik tulis, batik cap, batik sablon, batik painting, dan batik printing. Batik tulis, motif batik dibentuk dan dikerjakan dengan tangan. Batik cap, motif batik dibentuk dengan cap terbuat dari tembaga yang dibubuhi malam panas. Batik sablon, dibentuk dan dibuat seperti menyablon jadi metodenya berbeda dengan dua jenis batik sebelumnya. Batik painting, coraknya dibentuk dan dibuat menggunakan semacam cat. Dan batik printing, coraknya dibentuk dan dibuat menggunakan mesin printer khusus. Jadi bisa dikatakan bahwa yang dikatakan sebagai batik sesuai dengan pengertiannya ya cuma batik tulis dan batik cap yang menggunakan malam atau lilin dalam proses pewarnaanya. Sedangkan tiga jenis batik yang lainnya, meskipun bercorak batik tetapi kurang tepat jika disebut sebagai kain batik. Karena terdapat perbedaan antara kain batik dengan kain yang bermotif batik. Yaitu terletak pada cara pewarnaan dan pemberian motif pada kainnya.
Seperti kita tahu, bahwa batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni yang tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Awalnya batik hanya dikerjakan di dalam keraton saja dan hasilnya hanya untuk pakaian raja, keluarga, dan pengikutnya. Karena banyaknya pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kesenian batik kemudian dibawa ke luar dan dikerjakan di luar keraton. Nilai seni yang tinggi pada batik membutuhkan ketelitian yang tinggi. Oleh sebab itu, kegiatan membatik pada umumnya dilakukan oleh kaum perempuan. Jadi perempuan-perempuan Jawa menggunakan keahlian membatik mereka sebagai mata pencaharian ekslusif bagi kaum perempuan. Sampai akhirnya ditemukan “batik cap” yang bisa dilakukan oleh kaum laki-laki.
Ada alasan tersendiri mengapa corak atau motif dalam batik memiliki nilai filosofis dan kesakralan tersendiri. Hal ini disebabkan karena dalam penciptaan motif batik bersumber dari kegiatan meditasi dan pengolahan jati diri dalam mencapai kemuliaan. Dengan demikian corak batik yang tercipta menjadi akar nilai-nilai simbolik yang terdapat di balik corak-corak batik khususnya batik-batik pada jaman dulu. Arti simbolik pada batik disebabkan karena batik pada jaman dulu merupakan pakaian upacara yang berupa kain panjang, sarung, selendang, dodot, kemben, dan ikat kepala. Oleh sebab itu batik yang dikenakan harus dapat mencerminkan suasana upacara dan dapat menambah daya magis. Karena alasan tersebut maka diciptakan pula berbagai pola dan motif batik yang mempunyai simbolisme yang bisa mendukung atau menambah suasana religius dan magis dari upacara itu. Jadi fungsi batik di sini bukan hanya untuk memperindah busana saja melainkan juga merupakan bagian dari upacara itu sendiri.
Motif batik bukan hanya sekedar gambar atau ilistrasi, namun juga media penyampai pesan yang merupakan pandangan hidup pembuatnya dan pemberian nama motif batik berkaitan juga dengan suatu harapan. Salah satu contoh motif sidomukti, melambangkan harapan agar pemakainya “mukti” atau bahagia lahir dan batin. Motif batik, khususnya batik pesisir banyak dipengaruhi oleh budaya asing yang dibawa oleh para pedagang dari luar negeri. Sehingga pada umunya corak batik di pesisir lebih bervariasi baik motif maupun warnanya. Seperti contoh warna merah dan corak phoneix yang dipengeruhi oleh budaya Tionghoa. Motif bunga-bunga, kereta dan gedung-gedung serta warna biru yang dipengaruhi oleh budaya Eropa. Namun batik tradisional tetap mempertahankan coraknya karena memiliki makna tersendiri sebagai kelengkapan upacara.
Meskipun tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik, namun teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Ada yang menduga bahwa teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negeri seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Batik tidak hanya populer di Asia tetapi juga sangat populer di beberapa negara di Afrika. Walaupun demikian, batik Indonesia khususnya Jawa yang paling terkenal di Dunia.
Bangga dunk..punya batik yang go international…
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran Islam di Jawa. Dalam beberapa catatan sejarah, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Jadi khususnya di Indonesia sendiri kesenian batik telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja selanjutnya. Adapun meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Pada saat itu semua batik masih batik tulis sampai awal abad ke-XX, dan batik cap mulai dikenal setelah perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam, banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah santri dan kemudian batik menjadi barang dagangan tokoh pedagang muslim untuk melawan perdagangan Belanda.
Hmmm….sudah belajar mengenai batik dan sejarahnya nich…
Pasti nyari-nyari, kok nggak ada contoh batiknya, trus makna dan filosofinya gimana..ya kan???
Tenang…contoh motif batik, makna lambang dan filosofi batiknya akan disampaikan pada tulisan kami selanjutnya, ditambah lagi mengenai perkembangan batik dari masa ke masa. Semoga masih diberi kesempatan untuk belajar bersama lagi…
Jadi jangan lupa baca tulisan kami selanjutnya di Kenalan sama Batik Yuuuukkkkk….(bagian 2) ya……
hayooo…masih malu pakai bati?
hmmm…..Pakai batik? Siapa takut…….?!
Sumber : hasil kajian dari berbagai sumber

Posted on 16/07/2011, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: