Kenalan sama Batik Yuuukkk… (bagian 3)

Oleh : Bayu kartika

Halo sahabat budaya semua…. ketemu sama batik lagi nich… hehe…. pastinya sudah baca dua tulisan tentang batik yang terbit duluan kan… kalau belum, baca dulu tulisan yang bagian 1 dan 2 deh… biar nyambung okay…..?!

Kalau kemarin kita telah belajar mengenai pengertian, sejarah, macam-macam batik berdasarkan cara pembuatan, dan sejarah perkembangannya… Maka sekarang yuk kita belajar bareng deh mengenai motif batik dan makna lambangnya….hehe sebenarnya sudah kami janjikan dari kemarin-kemarin tapi baru terealisasikan sekarang…hehe..maaf ya..

Seperti sudah sering kita bahas di tulisan-tulisan sebelumnya, bahwa batik tidak pernah lepas dari kehidupan orang Jawa. Sejak masih dalam kandungan hingga kematian menjemput. Setiap corak batik terutama batik-batik tradisional memiliki makna tersendiri yang mengandung nilai-nilai adhiluhung. Pola batik terutama di Jawa memiliki arti yag sakral di berbagai upacara adat masyarakat sebagai pelengkap bahkan salah satu syarat berlangsungnya suatu upacara adat. Kita ambil satu contoh upacara mitoni atau pitonan. Pada tulisan kami yang lain sudah sedikit dibahas mengenai batik dan makna bagi upacara tersebut. Yuk… sekarang kita bahas sedikit lebih mendalam mengenai makna batik yang digunakan pada upacara tersebut.

Sedikitnya diperlukan enam macam kain batik dan satu macam kain lurik dalam upacara pitonan. Dalam upacara pitonan, batik pertama digunakan setelah upacara siraman yang merupakan awal dari upacara pitonan.

Pasti sahabat budaya bertanya-tanya (saya pun dulu juga, hehe)…lho itu kan yang pakai ibunya…bukan anaknya? Mana bisa bayi dalam kandungan kok pakai batik?

Hmmm…satu lagi nich jangan mengambil sesuatu secara bulat-bulat, tapi di cerna dulu..hehe….

Ternyata begini, kan upacara pitonan itu diselengarakan untuk calon ibu dan anaknya yang masih dalam kandungan, dan dalam upacara itu memerlukan batik sebagai salah satu kelengkapan upacaranya. Jadi batik diperlukan sejak seorang anak masih dalam kandungan, untuk upacara selamatannya. Tapi bukan berarti anak dalam kandungan memakai batik, yang memakai batik masih ibunya….

Pada upacara pitonan, seorang calon ibu berganti busana sebanyak tujuh kali dengan pola atau corak batik yang berbeda. Batik yang dikenakan antara lain sebagai berikut: (dapat dipilih 7 diantaranya)

1. Sida mulyo

clip_image002

Melambangkan kemulyaan dan kemakmuran, dengan harapan agar bayi yang dilahirkan hidup makmur.

2. Sida asih

clip_image004

Maknanya agar bayi yang kelak dilahirkan menjadi orang yang dicintai dan dikasihi oleh sesamanya serta mempunyai sifat belas kasih.

3. Sida mukti

clip_image006

Melambangkan kebahagiaan, dengan makna agar bayi yang kelak dilahirkan selalu hidup bahagia.

4. Sida luhur

clip_image008

Melambangkan kemuliaan, maknanya mirip dengan motif sida mulyo.

5. Wahyu tumurun

clip_image010

Melambangkan agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan YME dan selalu mendapat petunjuk dan perlindungan dari-Nya.

6. Semen rama (gambar ini merupakan motif semen rama sawt gurdo)

clip_image012

Melambangkan agar cinta kasih kedua orang tua yang akan menjadi bapak dan ibu tetap bertahan selama-lamanya. Selain itu juga bermakna agar anak yang dilahirkan mempunyai budi pekerti luhur seperti yang dimiliki raja.

7. Udan riris seling sawat gurdo

clip_image014

Melambangkan harapan agar kehidupan dalam masyarakat anak yang akan lahir selalu menyenangkan.

8. Parang kusuma ceplok mangkoro

clip_image016

Melambangkan perjuangan untuk tetap hidup, karena untuk dapat sampa ke dunia, seorang anak dan ibu harus memperjuangkannya.

Semua motif batik tersebut di atas mengandung arti filosofis sendiri-sendiri. Selain motif batik itu juga ada yang kadang memakai batik motif babon angrem yang melambangkan kasih sayang dan kesabaran seorang ibu. Pada upacara pitonan juga diperlukan kain lurik, biasanya berpola yuyu sekandhang yang melambangkan harapan agar si anak setelah lahir dikaruniai rizki yang berlimpah.

Batik juga menyertai kelahiran yang digunakan untuk alas yang disebut kopohan (basahan) yang di daerah tertentu disebut “pesing”. Batik ini biasanya sudahlawas atau bekas milik neneknya. Hal ini mengandung harapan agar bayi yang lahir memiliki umur yang panjang seperti neneknya. Pola batik yang digunakan juga yang memiliki filosofi baik, sehingga kebaikan itu akan terbawa oleh bayi yang masih suci hingga dewasa nanti. Kain kopohan atau pesing ini kemudian dirawat oleh orang tua si bayi.

Saat menanam ari-ari, ayah bayi mengenakan busana Jawa lengkap, kain batik latar hitam dan menggendong kendil berisi ari-ari menggunakan salah satu motif kain yang dipakai sang ibu saat upacara pitonan. Bagi kerabat keraton, kain yang dipakai bermotif “parang rusak” yang melambangkan bayi itu masih trahing luhur atau keturunan bangsawan.

Kain batik juga digunakan dalam upacara memasuki usia dewasa, terutama untuk gadis yang mengalami menstruasi untuk pertama kalinya. Setelah siraman mengenakan kaon berpola grompol, yang melambangkan permohonan kebahagiaan dan kesejahteraan yang nggrompol (ngumpul), selalu dikitari dan disukai oleh teman-temannya. Untuk pemuda, batik digunakan saat khitanan dengan mengenakan batik parang pamor yang melambangkan harapan agar setelah dikhitan tumbuh sebagai laki-laki yang cakap dan berbudi luhur, karena telah pecah “pamor”nya. (hmmm…sekarang masih ada yang menerapkan adat dan kebiasaan kayak gitu nggak ya….???)

clip_image018 motif grompol

Dalam upacara pernikahan, batik juga berperan penting. Antara lain untuk lamaran, siraman, akad nikah, dan resepsi. Banyak sekali motif batik yang dikenakan pada upacara pernikahan baik itu oleh pengantin, keluarga pengantin, dan tamu-tamunya. (mengenai pernikahan akan kami bahas pada tulisan kami selanjutnya, semoga masih diberi kesempatan untuk belajar bersama ya,,,,)

Hingga saat kematian pun batik juga masih menyertai upacaranya. Sebelum dimasukkan dalam keranda atau peti, jenazah biasanya ditutup dengan kain batik bermotif sida mukti, sida mulya, sida luhur, semen rama, dan kawung yang bermakna kembali ke alam “suwung” atau slobok. Selain itu juga digunakan kain batik yang merupakan kesayangan almarhum atau almarhumah atau kain batik yang belum sempat dipakai selama hidupnya. Bagi pelayat, biasanya mengenakan kain batik berpola slobok, dari kata “lobok” atau longgar. Hal ini bermakna doa agar yang meninggal diberi jalan yang lapang sedangkan yang ditinggalkan dapat melepaskannya dengan hati yagn ikhlas. Pola batik yang sering digunakan oleh pelayat adalah motif buket pakis ciptaan Pura Mangkunegaran yang dipengaruhi oleh budaya Belanda, yang berupa karangan bunga dengan daun pakis sebagai wujud bela sungkawa.

Batik juga digunakan pada acara ruwatan, yaitu salah satu upacara adat yang bertujuan untuk menghilangkan takdir tidak baik bagi manusia sukerta. Misalnya anak tunggal, dua anak laki-laki semua atau perempuan semua, dan sebagainya. Bagi masyarakat yang masih percaya, anak-anak tersebut harus diruwat, karena kalau tidak akan menjadi mangsa Bethara Kala atau mendatangkan musibah bagi keluarga. Biasanya ruwatan dilaksanakan dengan tradisi wayangan dan di atas kelir biasanya disampirkan 9 potong kain batik. Adapun batik tersebut bermotif parang rusak, semen latar putih, semen latar hitam, ceplok, kawung, krambil secukil, tambal miring, slobok, dan poleng bang bintulu. Yang biasanya harus ada adalah batik dengan motif poleng bang bintulu, parang rusak, kawung, dan krambil secukil.

Berikut ini adalah beberapa jenis motif batik yang sering dipakai masyarakat terutama dalam upacara-upacara adat.

clip_image020

Truntum

clip_image022

Lar Latar Ireng (hitam)

clip_image024

Lar Ukel

clip_image026

Madu Branta

clip_image028

Mukti Wibawa

clip_image030

Ratu Ratih

clip_image032

Sekar Jagad

clip_image034

Sri Katon

clip_image036

Parang Nitik

clip_image038

Cakar ayam

clip_image040

Kawung picis

clip_image042

Klitik

clip_image044

Nitik

clip_image046

Parang Bligon, Ceplok Kembang Randu

clip_image048

Parang Curigo, ceplok kepet

clip_image050

Parang Grompol

clip_image052

Peksi Kurung

clip_image054

Prabu anom/parang tuding

clip_image056

Semen gurdo

clip_image058

Semen kuncoro

clip_image060

Slobok

clip_image062

Sido Mukti Ukel Lembat

Wah..sudah banyak juga ya motif batik yang kita bahas bersama, tapi masih banyak lagi lho, jadi jangan pernah berhenti belajar dan memperkaya wawasan kita ya sahabat budaya semua….

O iya…kan lusa sudah bulan suci Ramadhan nich, bulan yang indah dan penuh berkah… sebelum memasuki bulan suci, kami memohon maaf sebesar-besarnya atas segala kesalahan kami, baik yang disengaja maupun tidak, baik yang terlihat maupun tidak, dan dari tulisan-tulisan yang mungkin kurang berkenan di hati para sahabat budaya semuanya…

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi sahabat budaya yang menjalankannya, mari kita raih kemenangan sejati yang hakiki di bulan suci…. ^_^

Sumber : olah bahasa dari berbagai sumber

NB. : Buat sahabat budaya yang tertarik untuk bergabung bersama kami atau ingin meyampaikan saran dan kritik untuk memperkaya tulisan di blog ini dan biar temen belajarnya lebih banyak lagi, silakan kirimkan naskah tulisan sahabat budaya ke alamat email kami di jawabudaya@gmail.com ditunggu partisipasinya ya….terimakasih…

Belajar budaya,,,siapa takut..hehe sampai jumpa di tulisan kami selanjutnya, selamat membaca…^_^

Posted on 30/07/2011, in Adat Istiadat and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. wah….keren…keren…..^_^

  2. Resti Yustikavianti

    ^,^ bagus :)))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: