Menyambut wahyu lailatul qadar ala masyarakat Jawa

Oleh : bayukartika

Wah…tinggal beberapa hari lagi sudah hari raya idul fitri…hayooo…sahabat budaya sudah mempersiapkannya belum nich? Sudah mudik? Sudah berkumpul bersama keluarga??? Seneng yah…bisa berkumpul bersama keluarga setelah beberapa waktu tidak berkumpul dengan bapak, ibu, kakek, nenek, saudara dan keluarga tercinta… pertama kami mengucapkan selamat datang ke kampung halaman buat sahabat budaya yang mudik, dan salam buat seluruh keluarga di rumah. Nah…untuk sahabat budaya yang tidak mudik, kami juga menitipkan salam buat seluruh keluarga di rumah. Semoga keluarga kita semua selalu dalam lindungan dan mendapat rahmat dari Yang Maha Esa.

Hmmm….sebebentar lagi lebaran, berarti bulan puasa sudah tinggal beberapa hari lagi. Sepuluh hari terakhir bulan ramadhan / bulan puasa merupakan hari-hari yang sangat istimewa, salah satunya tradisi mudik yang konon kabarnya hanya ada di Indonesia lho…jadi mudik juga termasuk budaya yang patut kita lestarikan…. setujuuuuu????? (setuju banget, soalnya kami juga melakukan mudik beberapa tahun terakhir ini, hehe…)

Nah selain itu ada sebagian masyarakat khususnya di Jawa yang memiliki cara atau tradisi tersendiri untuk mengisi sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan/bulan puasa ini. Mau tau apa aja yang dilakukan oleh masyarakat tersebut??? Belajar bareng yuk…

Mulai dari malam ke-21, atau tanggal 20 malam di bulan puasa, di Jawa Tengah khususnya ada tradisi maleman / malem selikuran (selikur, jawa = 21). Kalau di keraton Solo, ada tradisi malem selikuran dengan sedekah ageng yang dilaksanakan di Masjid Agung Keraton Surakarta Hadiningrat. Yang berbeda dengan sedekah-sedekah lain selain pada malem selikuran ini adalah adanya lampion sebagai salah satu komponen upacara adat yang diselenggarakan. Lampion ini sebagai simbol atau do’a agar orang yang membuat atau membawa lampion tersebut mendapat wahyu lailatul qadar. Nah…kalau masyarakat umum terutama di kampung-kampung menaruh dian/tintir (jawa=lampu minyak) di luar rumah setelah magrib pada malem selikur. Sebelumnya biasanya mereka melakukan sedekah dengan menggunakan jajan pasar (berisi buah-buahan dan kue-kue dari pasar) dan makanan pokok (nasi dan lauk pauknya). Sahabat budaya tahu nggak ini maksudnya apa? Setelah saya bertanya-tanya, jawaban masyarakat sungguh ajaib… mereka memasang lampu minyak di luar rumah tersebut untuk menyambut datangnya wahyu lailatul qadar. Hmmm… kok begitu ya? Sebenarnya ini merupakan tradisi turun temurun dari jaman dahulu ketika belum ada lampu tapi tetap dilestarikan sampai sekarang meskipun sudah banyak lampu-lampu listrik yang berkilauan di semua sudut ruangan. Hal ini merupakan simbol saja, karena masyarakat percaya bahwa wahyu akan turun ke tempat-tempat yang terang. Padahal sebenarnya wahyu turun pada hati dan pikiran yang terang serta pada seseorang yang memang mampu untuk menerimanya. Nah…sedekah pada malam selikuran ini adalah selamatan untuk orang-orang yang menerima wahyu dan memohon keselamatan untuk yang mengeluarkan sedekah tersebut.

Selamatan dengan sedekah yang dilakukan selanjutnya adalah sedekah ba’do (sedekah lebaran yang biasa disebut sebagai sedekah lulutan). Sedekah ini dilaksanakan dari mulai malam selikur (malam 21) sampai malam terakhir sebelum lebaran. Istimewanya dari sedekah ini adalah penggunaan ketan yang dibentuk bulat menjadi golong (biasanya dibuat dari nasi putih biasa). Makna dari sedekah ini utamanya adalah memohon keselamatan dan sebagai ucapan syukur karena mempunyai wesi aji (jaman dahulu biasanya berupa keris, tombak, dan lain sebagainya, namun sekarang dapat berupa apa saja seperti cangkul, sabit, dan mata bajak bagi petani). Jadi wesi aji ini merupakan alat untuk mencari nafkah sehari-hari sehingga dapat menyambung hidup selama satu tahun ini. Golong yang dibuat dari ketan bertekstur lengket, sehingga merupakan doa yang tersirat dalam komponen sedekah yang mengandung makna bahwa meskipun bulat dan mempunyai pendirian sendiri, tetapi tetap manut/lulut terhadap yang punya. Sedekah ini juga merupakan permohonan keselamatan untuk pemilik alat, pembuatnya, dan penjualnya sehingga alat tersebut dapat digunakan oleh pemilik dengan sebaik-baiknya.

Yang ke-tiga adalah sedekah sangalikuran (sanga likur, jawa=29). Jadi pelaksanaannya dilakukan pada malam ke-29 di bulan ramadhan. Selain tujuan utamanya adalah untuk memohon keselamatan, sedekah tersebut adalah untuk penutupan bulan puasa sebagai malam terakhir diturunkannya wahyu lailatul qadar. Sedekah yang dikeluarkan pada malam ke-29 ini berupa nasi putih biasa dengan lauk pauk berupa tempe rebus dan sayuran rebus. Nasi dapat dibuat tumpeng atau tanpa dibuat tumpeng tergantung kesepakatan warga di daerah tersebut. Setiap malam ganjil dimulai sejak malam selikur, masyarakat di kampung-kampung masih menyalakan lampu minyak di luar rumah karena berharap turunnya wahyu tersebut kerumahnya masing-masing.

Hmmmm….itulah tradisi yang sampai saat ini masih terus dilaksanakan oleh sebagian besar masyarakat, terutama di pedesaan sebagai ucapan rasa syukur mereka terhadap karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa menjelang hari raya. Jadi masih perlu kiranya kita mempelajari tradisi yang masih bertahan di masyarakat agar jangan sampai punah atau hilang.

Seperti biasa sahabat budaya semuanya…ini merupakan salah satu kebudayaan yang kita miliki. Berkaitan dengan kepercayaan, itu sangat tergantung dari sahabat budaya semuanya. Semoga informasi yang kami sampaikan bermanfaat, yang baik silakan diambil dan yang kurang baik silakan dibuang sejauh-jauhnya.

Berhubung sebentar lagi hari raya idul fitri, kami mohon maaf lahir dan batin ya sahabat budaya semua…semoga kita memperoleh kemenangan sejati. Kemenangan atas diri kita sendiri, kemenangan untuk memerangi nafsu dalam diri yang sangat berbahaya ketika kita tak mampu mengendalikannya serta selalu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga amal ibadah kita selama bulan ramadhan ini diterima dan kita semua dipertemukan kembali dengan bulan ramadhan dan idul fitri tahun berikutnya, amiiinnn….

Seperti biasa Buat sahabat budaya yang tertarik untuk bergabung bersama kami atau ingin meyampaikan saran dan kritik untuk memperkaya tulisan di blog ini dan biar temen belajarnya lebih banyak lagi, silakan kirimkan naskah tulisan sahabat budaya ke alamat email kami di jawabudaya@gmail.com ditunggu partisipasinya ya….terimakasih…

Belajar budaya,,,siapa takut..hehe sampai jumpa di tulisan kami selanjutnya, selamat membaca sambil bersiap menyambut hari raya Idul Fitri.

Sumber : dari berbagai sumber

Posted on 28/08/2011, in Adat Istiadat and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: